SULSELONLINE.COM – Banjir melanda lima kecamatan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dalam tiga hari terakhir akibat hujan deras disertai meluapnya sungai. Sebanyak 3.500 jiwa terdampak, dengan ketinggian air mencapai selutut hingga sepinggang orang dewasa dan merendam sejumlah perumahan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Maros mencatat wilayah terparah berada di Kecamatan Moncongloe dan Marusu. Warga di bantaran sungai terpaksa menggunakan perahu untuk beraktivitas karena akses jalan menuju Kota Maros terendam hingga setinggi paha orang dewasa. Seorang lansia di Moncongloe bahkan dievakuasi akibat terjebak banjir di rumahnya.

Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan dampak banjir tersebar di sejumlah kecamatan. Di Kecamatan Marusu, tepatnya Desa Bonto Mate’ne Dusun Kampala, sekitar 750 jiwa atau 200 kepala keluarga terdampak. Di Kecamatan Maros Baru, Desa Borimasunggu Tekolabbua, tercatat 300 jiwa atau 100 kepala keluarga terdampak.

Di Kecamatan Lau, Desa Mattiro Deceng, sebanyak 750 jiwa atau 250 kepala keluarga terimbas. Sementara di Kecamatan Bontoa, Desa Bonto Lempangan, jumlah terdampak mencapai sekitar 1.000 jiwa atau 300 kepala keluarga.

Kecamatan Moncongloe menjadi salah satu titik terparah. Di Desa Moncongloe Lappara, sekitar 700 jiwa atau 300 kepala keluarga terdampak. Sejumlah perumahan seperti Pesona Pelangi, Dorsen, Grand Attila, hingga Mega Pontri terendam, dengan air masuk ke dalam rumah warga. “Beberapa warga bahkan harus dievakuasi menggunakan perahu karet saat debit air meningkat,” ujar Chaidir.

Kepala Desa Moncongloe, Iqbal, menyebut banjir dipicu intensitas hujan tinggi dan luapan sungai di sekitar permukiman. Warga kini mengungsi di masjid, rumah kerabat, bahkan sebagian memilih ke Kota Makassar untuk sementara waktu.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV melalui Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi, Rizky Yudha, memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada 24 Februari–1 Maret 2026. Kondisi ini dipengaruhi aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby, dan konvergensi angin yang mendukung pertumbuhan awan konvektif di Sulawesi Selatan.

Selain Maros, wilayah berpotensi hujan lebat meliputi Parepare, Barru, Pangkajene dan Kepulauan, Makassar, Gowa, Takalar, hingga Kepulauan Selayar. BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang serta gelombang 1,25–2,5 meter di sejumlah perairan, yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang.

BPBD Maros saat ini bersiaga dan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem hingga awal Maret.(*)