SULSELONLINE.COM – Di tengah konflik yang mengubah lanskap kepemimpinan di Iran, politikus veteran Ali Larijani muncul sebagai salah satu figur sentral dalam menjaga stabilitas pemerintahan. Mantan Ketua Parlemen Iran itu kini memegang peran penting dalam mengoordinasikan strategi dan kebijakan keamanan nasional.
Larijani dikenal sebagai tokoh yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan strategis terkait perang. Ia menempati posisi penting di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang bertugas merumuskan kebijakan pertahanan negara.
Karier politik Larijani telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia pernah bertugas di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), memimpin lembaga penyiaran negara IRIB, hingga menjadi diplomat utama dalam negosiasi nuklir Iran dengan negara-negara Barat.
Lahir di Najaf, Irak, pada 1958, Larijani berasal dari keluarga ulama berpengaruh. Ayahnya, Ayatollah Mirza Hashem Amoli, dikenal sebagai ulama syiah terkemuka. Latar belakang tersebut membuatnya memiliki hubungan kuat dengan kalangan ulama sekaligus lembaga keamanan di Iran.
Larijani menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran selama 12 tahun, dari 2008 hingga 2020, salah satu masa jabatan terlama dalam sejarah posisi tersebut. Di bawah kepemimpinannya, parlemen memainkan peran penting dalam pengesahan kesepakatan nuklir Iran pada 2015.
Namanya juga dikenal di panggung internasional saat menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi pada 2005 dan menjadi negosiator nuklir utama Iran.
Secara politik, Larijani berasal dari kubu konservatif Principlist yang mendukung sistem Republik Islam. Namun sejumlah analis menilai ia sebagai figur pragmatis yang mampu menjembatani berbagai faksi politik di Teheran.
Di tengah situasi perang dan dinamika politik internal Iran, pengalaman panjang Larijani menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam mengarahkan kebijakan keamanan dan strategi negara ke depan. (*)

Tinggalkan Balasan