SULSELONLINE.COM – Di Makassar, sebuah kisah tentang asal-usul dan masa depan kembali dipertautkan. Dalam suasana Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XXVI, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, berdiri bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai anak dari jejak panjang yang ditempa di tanah Makassar.

Di hadapan para saudagar dan tokoh Bugis-Makassar, ia menuturkan asal-usulnya dengan tenang, namun sarat makna. Ayahnya lahir, tumbuh, dan ditempa di Makassar. Dari kota inilah karakter itu dibentuk—keras, ulet, dan tidak mudah menyerah.

Nama Paulus Tjoanda pun disebut. Sosok yang baginya bukan sekadar ayah, tetapi sumber inspirasi hidup. Perjalanan dimulai dari titik paling sederhana: bengkel kecil, tangan yang akrab dengan oli, dan mimpi yang tak pernah berhenti tumbuh. Dari sana, langkah perlahan menjelma menjadi lompatan. Dari satu kapal, menjadi puluhan. Dari usaha kecil, menjadi jejak yang nyata.

Kisah itu bukan hanya kenangan. Ia hidup dalam cara berpikir dan memimpin.

Kini, di Maluku Utara, Sherly menghadapi kenyataan yang tak kalah besar. Daerah yang dipimpinnya mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia pada 2025, menembus sekitar 34 persen. Nikel menjadi denyut utama, mengangkat Maluku Utara sebagai salah satu pemain penting di tingkat dunia—menyumbang hingga 40–50 persen produksi nasional dan hampir 20 persen kebutuhan global.

Namun di balik angka-angka yang mengilap, ada kenyataan yang lebih sunyi.

Pertumbuhan belum sepenuhnya menjangkau semua. Ia belum merata. Ia belum sepenuhnya menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sherly menyampaikan hal itu dengan jujur. Banyak kebutuhan dasar di Maluku Utara masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Sumber daya manusia, sektor pertanian, peternakan, hingga infrastruktur belum sepenuhnya mampu menopang kebutuhan sendiri. Sekitar 80 persen kebutuhan pokok masih didatangkan dari luar, terutama dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.

Akibatnya terasa nyata. Harga bahan pokok melambung. Ayam, telur, beras, hingga ikan menjadi lebih mahal karena beban distribusi yang panjang dan biaya logistik yang tinggi.

Di titik inilah, masa lalu dan masa depan bertemu.

Sherly tidak hanya bercerita. Ia mengundang. Ia membuka pintu. Kepada saudagar Bugis-Makassar, ia menawarkan peluang sekaligus harapan. Pengalaman dan kekuatan pelaku usaha dari Sulawesi Selatan dinilai mampu mengisi ruang yang masih kosong—di sektor pangan, pelayaran, dan logistik.

Ajakan itu sederhana, namun dalam maknanya. Ini bukan sekadar investasi. Ini adalah panggilan untuk melengkapi pertumbuhan yang belum utuh.

Di balik gemerlap industri nikel, Maluku Utara masih membutuhkan fondasi yang kuat di sektor riil. Agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga adil. Agar kemajuan tidak hanya terlihat, tetapi juga dirasakan.

Dan dari Makassar, jejak lama itu seolah kembali menemukan jalannya. Sebuah pengingat bahwa pembangunan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu tumbuh dari akar—dari darah, dari kerja keras, dan dari keberanian untuk membuka jalan bagi yang lain.(*)