SULSELONLINE.COM – Jumlah pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kini melampaui 50.000 personel setelah kedatangan tambahan 2.500 marinir dan 2.500 pelaut. Angka ini sekitar 10.000 lebih banyak dari penempatan normal.
Peningkatan ini terjadi di tengah rencana pemerintahan Donald Trump yang mempertimbangkan operasi darat ke Iran. Mengutip The New York Times, opsi yang dikaji termasuk serangan skala besar untuk merebut wilayah strategis dan memaksa pembukaan Selat Hormuz yang diblokade Iran.
Biasanya, sekitar 40.000 tentara AS tersebar di pangkalan dan kapal di negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, Irak, Suriah, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Kini jumlahnya meningkat signifikan, belum termasuk sekitar 4.500 personel di kapal induk USS Gerald R. Ford yang telah ditarik dari kawasan usai insiden kebakaran dan kini berada di Eropa.
Pentagon juga mengirim sekitar 2.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 untuk memperkuat opsi militer. Pasukan ini disebut berada dalam jangkauan Iran dan berpotensi digunakan untuk merebut target strategis seperti Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Namun, sejumlah analis militer menilai 50.000 pasukan masih terlalu kecil untuk operasi darat besar. Sebagai perbandingan, Israel mengerahkan lebih dari 300.000 pasukan dalam operasi di Gaza, sementara invasi Perang Irak 2003 melibatkan hampir 250.000 personel di tahap awal.
Dengan wilayah luas dan populasi sekitar 93 juta jiwa, Iran dinilai sulit dikuasai hanya dengan kekuatan 50.000 pasukan.(*)

Tinggalkan Balasan