Kabupaten Gowa adalah mata air yang tak pernah meminta pujian. Dari hulunya, kehidupan mengalir diam-diam, menyusuri tanah, menyapa sawah, lalu menyeberang batas—menghidupi Makassar, Takalar, hingga Maros. Ia memberi tanpa gaduh, menanggung tanpa banyak kata.
Di atas aliran itu, bendungan demi bendungan berdiri seperti tanda zaman: Bendungan Bili-Bili, Bendungan Karalloe, hingga proyek yang kini tengah ditunggu—Bendungan Jenelata. Sebuah Proyek Strategis Nasional yang ditargetkan rampung pada 2028, menjanjikan perluasan manfaat air bagi ribuan hektare lahan dan jutaan harapan.
Namun di balik megahnya konstruksi, ada pertanyaan yang lahir dari tanah sendiri—tenang, tetapi tajam.
Bupati Husniah Talenrang mengucapkannya bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai kesadaran yang jernih: “Kita dapat apa?”
Pertanyaan itu bukan nada sumbang, melainkan panggilan untuk menata keadilan. Sebab Gowa bukan sekadar lokasi proyek; ia adalah sumber—sumber air, sumber pangan, sumber material, bahkan sumber kemungkinan.
Di ruang koordinasi yang mempertemukan pemerintah daerah dan Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan-Jeneberang, harapan itu dirangkai menjadi komitmen: bahwa setiap program nasional harus tumbuh bersama daerah yang menanggung akarnya. Bahwa bendungan bukan hanya beton yang menahan air, tetapi pintu yang membuka kesejahteraan.
Lebih dari itu, Husniah melihat jauh ke depan—bahwa waduk bukan sekadar tampungan, melainkan ruang hidup: pariwisata yang bergerak, perikanan yang berkembang, irigasi yang menghidupkan, bahkan energi yang menguatkan ekonomi lokal. Sebuah visi yang melampaui administrasi, menyentuh makna kepemimpinan itu sendiri.
Sementara itu, Kepala Balai, Heriantono Waluyadi, menegaskan proyek Bendungan Jenelata kini masih berfokus pada konstruksi. Progres pengadaan lahan baru mencapai sekitar 13 persen, dengan sisanya akan diselesaikan bertahap hingga 2028. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan kesabaran, koordinasi, dan kepercayaan yang saling dijaga.
Di sinilah keseimbangan diuji. Kawasan hulu, hutan konservasi, dan aliran air adalah tanggung jawab yang tak ringan bagi pemerintah daerah. Gowa menjaga, sementara banyak wilayah menikmati.
Maka wajar jika dari tanah yang memberi ini, lahir harapan yang sederhana namun mendalam: agar pembangunan tidak hanya mengalir keluar, tetapi juga kembali.
Karena pada akhirnya, setiap tetes air yang lahir dari Gowa seharusnya tidak hanya menghidupi negeri—tetapi juga menyejahterakan tanah asalnya. Butta Gowa, passolongang ceratta.(lim)

Tinggalkan Balasan