SULSELONLINE.COM – Negara-negara Teluk mulai mengubah strategi pertahanan mereka setelah stok sistem pertahanan udara terkuras akibat serangan intens dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari.

Di tengah gencatan senjata yang rapuh, sekutu Washington kini berlomba memperkuat pertahanan. Ketergantungan pada pasokan senjata AS mulai dipertanyakan, terutama karena keterbatasan produksi dan lamanya waktu pengiriman.

Sebagai alternatif, negara-negara Teluk mulai melirik opsi baru, termasuk penggunaan drone pencegat berbiaya rendah.

Sejumlah negara Teluk memperdalam kerja sama dengan Ukraina.

Arab Saudi telah menandatangani kesepakatan pertahanan yang mencakup produksi senjata dan pertukaran pengalaman. Sementara Qatar juga menjalin kerja sama serupa, bahkan mengirim pejabat untuk meninjau pelatihan drone pencegat serta bertemu perusahaan pertahanan Ukraina.

Pejabat Teluk dilaporkan meminta drone pencegat dan perangkat perang elektronik. Namun, produsen Ukraina menghadapi keterbatasan produksi dan ekspor karena tingginya kebutuhan domestik serta regulasi pemerintah.

Selain Ukraina, negara Teluk juga menjajaki pasokan dari Korea Selatan.

Arab Saudi menghubungi perusahaan seperti Hanwha dan LIG Nex1 untuk mempercepat pengadaan sistem pertahanan udara M-SAM. Sistem ini mampu mencegat drone, rudal, dan pesawat, serta telah digunakan oleh Uni Emirat Arab.

UEA juga disebut meminta tambahan rudal pencegat. Selain itu, negara Teluk mulai melirik teknologi baru dari perusahaan rintisan seperti Cambridge Aerospace di Inggris, yang mengembangkan rudal kecil berbiaya rendah untuk menghadapi ancaman drone.

Alasan Berpaling dari AS

Pergeseran strategi ini dipicu keterbatasan kapasitas industri pertahanan AS dalam memenuhi lonjakan permintaan global, terutama sejak perang di Ukraina.

Meski AS tetap melanjutkan penjualan senjata senilai 23 miliar dolar AS ke beberapa negara seperti UEA, Kuwait, dan Yordania, banyak sistem membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikirim. Selain itu, sistem Patriot PAC-3 juga mengalami tekanan pasokan karena digunakan oleh hampir 20 negara.

Langkah negara-negara Teluk juga dipengaruhi efektivitas serangan balasan Iran yang memanfaatkan drone murah dalam jumlah besar.

Drone seperti Shahed menunjukkan bahwa serangan berbiaya rendah dapat menantang sistem pertahanan mahal, sekaligus mengubah cara negara dalam membangun sistem pertahanan mereka.(*)