SELAYAR – Bupati Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, HM Natsir Ali mengusulkan agar Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menempatkan markas di Pulau Selayar. Usulan tersebut disampaikan kepada Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, mengingat tingginya frekuensi kecelakaan laut di wilayah perairan Selayar.

Menurut Natsir Ali, perairan Kepulauan Selayar merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Indonesia bagian barat dan timur. Setiap hari kawasan tersebut dilintasi kapal penumpang, kapal barang, hingga kapal nelayan sehingga membutuhkan kehadiran tim penyelamat yang siaga setiap waktu.

“Kami bermohon kepada Basarnas agar satu markas dapat ditempatkan di Pulau Selayar. Perairan kami merupakan jalur lalu lintas pelayaran Indonesia bagian barat dan timur yang hampir setiap tahun terjadi kecelakaan laut,” ujar Natsir Ali saat menerima kunjungan Direktur Operasi Basarnas di Selayar, Selasa (21/7/2026).

Permintaan tersebut disampaikan di tengah berlangsungnya operasi pencarian korban tenggelamnya KLM Nurul Salsa di perairan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar. Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, turun langsung memimpin sekaligus memantau jalannya operasi pencarian.

Dalam operasi tersebut, Basarnas mengerahkan sejumlah armada, yakni KN SAR Kamajaya, KN SAR Pacitan, KN SAR Puntadewa, RB 202, KRI Marlin 877, KRI Hiu, pesawat Boeing 737-200, serta KN SAR Mattoangin untuk mempercepat pencarian 16 korban yang masih dinyatakan hilang.

Berdasarkan data sementara, dari 78 orang yang berada di atas KLM Nurul Salsa, sebanyak 59 penumpang berhasil diselamatkan, tiga orang ditemukan meninggal dunia, sementara 16 lainnya masih dalam proses pencarian.

Selama ini, perairan Kepulauan Selayar dikenal sebagai salah satu kawasan yang rawan kecelakaan laut. Hampir setiap tahun terjadi insiden yang melibatkan kapal penumpang, kapal barang, maupun kapal nelayan.

Para nelayan menilai perubahan cuaca yang berlangsung secara tiba-tiba menjadi salah satu faktor utama tingginya risiko pelayaran di wilayah tersebut.

“Kadang saat berangkat dari pantai cuaca terlihat cerah. Namun ketika sudah berada di tengah laut, tiba-tiba muncul gelombang tinggi disertai cuaca buruk. Kondisi seperti itu yang sering memicu kecelakaan kapal,” ujar Kardi, nahkoda kapal pengangkut barang asal Bulukumba.

Dalam sebulan terakhir, cuaca ekstrem juga beberapa kali mengganggu aktivitas pelayaran di lintasan feri Bira–Pamatata maupun rute Selayar menuju Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejumlah kapal bahkan terpaksa membatalkan pelayaran atau berbalik arah akibat gelombang tinggi dan cuaca buruk.

Natsir Ali berharap kehadiran markas Basarnas di Kepulauan Selayar dapat memangkas waktu respons dalam penanganan keadaan darurat di laut, sekaligus meningkatkan keselamatan pelayaran di salah satu jalur transportasi laut tersibuk di kawasan timur Indonesia. (*)