SULSELONLINE.COM – Aksi pamer gaya hidup mewah (flexing) di media sosial kembali berdampak pada karier pejabat publik. Kali ini, Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Gayo Lues, dr. H. Nevirizal, mengundurkan diri setelah unggahan putrinya, Dea Arranoya, viral dan memicu sorotan publik.

Melalui akun Instagram @ddeyya.aa, Dea kerap membagikan gaya hidup mewah, mulai dari liburan ke Korea Selatan, Bangkok, hingga Eropa. Ia juga mengunggah percakapan keluarga, seperti pembelian Vespa dan rencana ayahnya membelikan mobil untuk anaknya.

Unggahan yang paling menuai kritik adalah foto 15 jeriken BBM di samping sebuah mobil dengan keterangan, “Papaku beli minyak 15 jeriken. Ntah mobil mana lagi yang mau dipenuhkannya.” Konten tersebut diunggah saat Gayo Lues masih dalam masa pemulihan pascabencana, bahkan saat Nevirizal disebut sedang mengikuti rapat penanganan bencana. Dea juga sempat mengunggah pernyataan yang menantang orang lain untuk membandingkan kondisi ekonomi, pendidikan, keluarga, hingga pasangan, sehingga semakin memicu perhatian publik terhadap harta keluarganya.

Menyikapi polemik tersebut, Nevirizal memilih mengundurkan diri dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia mengaku menyesali unggahan anaknya dan berharap peristiwa itu menjadi pelajaran bagi keluarganya agar lebih bijak menggunakan media sosial.

Meski Nevirizal telah mundur, Bupati Gayo Lues Suhaidi memastikan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues tetap melakukan investigasi atas dugaan pelanggaran etik. Menurutnya, pengunduran diri merupakan bentuk tanggung jawab yang patut diapresiasi, tetapi tidak menghentikan proses pemeriksaan.

Suhaidi juga meluruskan soal foto jeriken BBM yang viral. Ia menjelaskan jeriken tersebut merupakan dokumentasi lama ketika pemerintah daerah menitipkan cadangan BBM di rumah Nevirizal saat masa tanggap darurat karena belum memiliki gudang penyimpanan.

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menyatakan prihatin atas kegaduhan yang terjadi dan kembali mengingatkan seluruh ASN beserta keluarganya agar bijak bermedia sosial serta menghindari perilaku flexing yang dapat melukai perasaan masyarakat.