SULSELONLINE.COM – Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kini memiliki Perusahaan Air Minum (PAM) Mini yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
PAM Mini tersebut menjadi salah satu inovasi pemerintah desa bersama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, terutama di tengah keterbatasan pasokan air dari PDAM saat musim kemarau.
Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan, keberadaan PAM Mini menjadi solusi alternatif bagi masyarakat yang selama ini masih bergantung pada pasokan air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Patontongan.
Menurutnya, kapasitas IPA Patontongan belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya untuk penambahan sambungan baru.
“PAM Mini ini dikelola oleh BUMDes dan menjadi salah satu inovasi dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih,” kata Chaidir Syam usai meresmikan PAM Mini Desa Tenrigangkae, Senin (10/8/2026).
Keterbatasan pasokan tersebut mendorong pemerintah desa dan masyarakat memanfaatkan sumber air berupa sumur dengan debit besar yang tersedia sepanjang tahun.
Melalui musyawarah desa, masyarakat kemudian menyepakati pembangunan PAM Mini hingga akhirnya mulai dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga.
Kepala Desa Tenrigangkae Wahyu Febri mengatakan, layanan PAM Mini saat ini telah menjangkau sekitar 157 rumah dari potensi hampir 800 rumah yang berada di wilayah desa tersebut.
“Untuk sementara sudah sekitar 157 rumah yang terlayani. Ke depan kami akan terus kembangkan supaya masyarakat yang membutuhkan air bersih bisa terlayani,” ujarnya.
Wahyu menargetkan cakupan layanan PAM Mini terus diperluas secara bertahap hingga mampu menjangkau seluruh wilayah Desa Tenrigangkae.
Untuk sementara, warga belum dikenakan biaya karena PAM Mini masih dalam tahap uji coba. Pemerintah desa juga tengah menyiapkan Peraturan Desa (Perdes) yang akan mengatur tarif penggunaan air.
“Tarif ini nantinya diharapkan dapat mendukung biaya pemeliharaan sekaligus menjaga keberlanjutan layanan PAM Mini,” jelasnya.
Selain penyediaan air bersih, Desa Tenrigangkae juga memanfaatkan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk mendukung sektor pertanian.
Jaringan irigasi tersebut memanfaatkan sumur bor bantuan pemerintah pusat dan saat ini telah mengairi sekitar 2 hektare lahan sawah. Potensinya masih dapat dikembangkan hingga 10 hektare.
“Kalau sistem irigasinya terus ditingkatkan, cakupannya bisa diperluas hingga 30 sampai 40 hektare, termasuk ke wilayah desa sekitar,” katanya.
Sementara itu, kondisi pertanian di wilayah Kecamatan Mandai relatif aman menghadapi musim kemarau. Para petani telah melakukan antisipasi dengan mempercepat masa tanam berdasarkan informasi cuaca.
Pemerintah Kabupaten Maros juga menyiagakan satuan tugas (satgas) pompanisasi untuk mengantisipasi potensi kekeringan.
Petani yang membutuhkan bantuan distribusi air dapat melapor melalui petugas penyuluh lapangan (PPL). Satgas selanjutnya akan membawa pompa ke lokasi yang memiliki sumber air untuk membantu pengairan lahan pertanian.

Tinggalkan Balasan