MAROS – Pemkab Maros menyalurkan sebanyak 170 ribu liter air bersih disalurkan untuk membantu warga Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang terdampak kekeringan ekstrem.
Bantuan tersebut terdiri dari 70 ribu liter dari Elnusa Petrofin dan 100 ribu liter dari pelaku UMKM binaan UPTD Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kabupaten Maros.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan bantuan tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kemarau panjang.
Ia mengatakan, kekeringan kini melanda 14 kecamatan di Maros.
Wilayah yang sebelumnya masih aman, seperti Camba dan Mallawa, juga mulai mengajukan permintaan bantuan air bersih.
“Hampir semua kecamatan, 14 kecamatan mengalami kondisi kekurangan air bersih yang begitu ekstrem sehingga semuanya kita salurkan. Sebelumnya kan Camba dan Mallawa masih aman, tapi saat ini sudah ada permintaan masuk untuk bantuan ke sana,” katanya, Senin (12/10/2026).
Ketua PMI Maros itu mengatakan, kondisi kekeringan membuat pemerintah daerah harus memperluas distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Selain Camba dan Mallawa, kekeringan juga dirasakan masyarakat di Kecamatan Cenrana dan sejumlah wilayah lainnya.
Pemerintah daerah berupaya mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan warga.
Namun, keterbatasan sumber air masih menjadi tantangan dalam penyaluran bantuan.
Bantuan dari Elnusa Petrofin dan UMKM binaan PLUT Maros diharapkan dapat menambah pasokan air bersih bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan air selama musim kemarau.
Di sisi lain, kekeringan juga berdampak pada operasional instalasi pengolahan air (IPA) di Kabupaten Maros.
Dari empat instalasi yang ada, saat ini hanya IPA Bantimurung dan IPA Amarang yang masih beroperasi normal.
Sementara itu, IPA Patontongan dan IPA Marampesu telah berhenti berproduksi selama sekitar dua bulan akibat keterbatasan sumber air baku.
Mantan Ketua DPRD Maros itu menjelaskan, dalam kondisi normal, IPA Marampesu memiliki kapasitas produksi sekitar 20 liter per detik.
Adapun IPA Bantimurung mampu memproduksi 120 liter per detik, IPA Amarang 60 liter per detik, dan IPA Patontongan sekitar 40 liter per detik.
“Yang sekarang kering Patontongan. Patontongan dan Marampesu sudah tidak bisa dipakai,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Maros terus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan.
Selain mengupayakan distribusi air bersih, Chaidir juga mengimbau masyarakat untuk berdoa agar kemarau panjang segera berakhir.
Ia menyebut pemerintah daerah telah meminta masjid-masjid menggelar salat Istisqa atau salat meminta hujan.
“Kita sudah meminta ke masjid-masjid untuk menggelar Istisqa. Semoga Allah membantu kita dan krisis air bersih bisa berakhir,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Maros, Towadeng menuturkan pihaknya telah menyalurkan lebih dari 5 juta liter air bersih kepada masyarakat.
Air tersebut telah didistribusikan menggunakan lebih dari 1.000 tangki.
Saat ini, rata-rata 30 hingga 31 tangki air dikerahkan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Jumlah armada bahkan bisa mencapai 35 tangki jika permintaan meningkat.
“Sudah lebih dari 5 juta liter. Sudah ada lebih dari 1.000 tangki,” katanya.
Dari sejumlah wilayah terdampak, Kecamatan Bontoa menjadi daerah dengan distribusi air bersih paling banyak.
Sedikitnya delapan tangki air bersih disalurkan ke Bontoa setiap hari.
Selain Bontoa, distribusi air juga cukup banyak dilakukan di Kecamatan Lau dan Maros Baru.
Khusus Kecamatan Lau, sedikitnya empat tangki air bersih disalurkan setiap hari.
Dalam proses penyaluran, BPBD berkoordinasi dengan pemerintah desa dan aparat setempat.
Hal itu dilakukan untuk mengatur warga agar distribusi air berjalan tertib dan tidak menimbulkan persoalan di lapangan.
“Kalau tidak ada yang mengatur, bisa-bisa terjadi insiden. Selama ini banyak mobil kita dicegat warga kalau tidak teratur,” ungkapnya.(*)

Tinggalkan Balasan