JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya risiko global mulai memberi tantangan baru bagi sektor perbankan nasional. Permata Bank memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) masih terbuka pada semester I 2026.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, mengatakan pelemahan rupiah yang telah menembus lebih dari 4 persen secara year-to-date menjadi salah satu faktor pendorong potensi kenaikan suku bunga.

“Kami melihat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada semester I cukup terbuka, kemungkinan pada Mei atau Juni, sehingga BI Rate dapat naik menjadi 5 persen,” kata Faisal dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I 2026, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari konflik Timur Tengah, tingginya harga minyak dunia, hingga arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik.

Permata Bank menilai kenaikan BI Rate nantinya dapat berdampak pada sektor perbankan, terutama terhadap permintaan kredit masyarakat dan dunia usaha.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan permintaan kredit saat ini masih relatif lemah meski likuiditas perbankan secara umum tetap memadai.

“Salah satu penopang utama pertumbuhan kredit saat ini adalah kredit investasi. Sementara kredit modal kerja, kredit korporasi, komersial, maupun konsumsi masih relatif terbatas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perlambatan mulai terlihat pada kredit konsumsi seiring tekanan terhadap daya beli masyarakat kelas menengah. Fenomena downtrading membuat masyarakat mulai menahan pembelian barang tahan lama seperti kendaraan baru.

“Kalau aktivitas ekonomi membaik, konsumsi masyarakat solid, dan permintaan modal kerja meningkat, maka permintaan kredit juga otomatis akan meningkat,” katanya.

Namun, jika kondisi ekonomi global memburuk dan tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, likuiditas perbankan dinilai berpotensi semakin mengetat.

Permata Bank juga menyoroti meningkatnya penempatan dana perbankan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang outstanding-nya kini mencapai sekitar Rp920 triliun.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit sektor manufaktur mulai melambat seiring tekanan pada industri. Data PMI manufaktur Indonesia pada April 2026 juga tercatat masuk zona kontraksi.

Head of Industry & Regional Research Permata Bank, Adjie Harisandi, mengatakan perlambatan industri mulai terlihat pada sektor barang tahan lama dan otomotif.

“Segmen menengah bawah dan entry level mengalami tekanan daya beli,” ujarnya.

Menurut Adjie, masyarakat kini lebih memilih membeli mobil bekas dibanding kendaraan baru akibat tekanan ekonomi dan tingginya harga kendaraan.

Permata Bank menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kualitas kredit konsumsi dan pembiayaan sektor riil ke depan.

Meski demikian, Josua menegaskan kondisi likuiditas perbankan nasional saat ini masih relatif aman dan belum mengkhawatirkan.

“Sampai akhir tahun nanti, kondisi undisbursed loan akan sangat bergantung pada perkembangan aktivitas ekonomi dan sentimen usaha,” tutupnya.(*)