MAROS — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mulai berdampak pada aktivitas pendidikan dan pemerintahan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros memberlakukan pembelajaran daring bagi siswa serta sistem Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan, kebijakan tersebut diambil sebagai upaya mengurangi kepadatan lalu lintas, terutama pada jam-jam sibuk.
“Melalui kebijakan ini, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan tanpa mengharuskan siswa melakukan perjalanan menuju sekolah, sehingga mobilitas kendaraan dapat kita tekan,” ujar Chaidir, Minggu (13/9/2026).
Kebijakan pembelajaran dari rumah berlaku selama sepekan, mulai 12 hingga 19 September 2026. Kebijakan tersebut berlaku bagi peserta didik jenjang TK/PAUD, SD, hingga SMP.
Kepala Dinas Pendidikan Maros Andi Wandi B Putra Patabai memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk menggunakan media pembelajaran yang mudah diakses oleh siswa.
Pihak sekolah juga diimbau tetap memperhatikan keamanan lingkungan, termasuk mengantisipasi potensi kebakaran serta menjaga kebersihan selama pelaksanaan pembelajaran daring.
Sementara itu, Pemkab Maros mengizinkan ASN bekerja dari rumah maksimal dua hari dalam sepekan selama periode 14 hingga 18 September 2026.
Penjadwalan WFH diserahkan kepada pimpinan masing-masing unit kerja dengan mempertimbangkan kebutuhan pelayanan dan kelangsungan tugas pemerintahan.
Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku bagi ASN yang bertugas pada sektor pelayanan publik maupun petugas lapangan.
“Pelayanan kesehatan, pengamanan, pemadam kebakaran, penanggulangan bencana, hingga kebersihan tetap bertugas secara langsung,” tegas Chaidir, mantan Ketua DPRD Maros tersebut.
Untuk memastikan kinerja tetap berjalan, ASN yang melaksanakan WFH tetap berada dalam pengawasan atasan. Mereka juga diwajibkan melaporkan pelaksanaan tugas maksimal sehari setelah penugasan.
Kebijakan tersebut mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Musna, salah seorang orang tua siswa, mengaku lega karena tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu di jalan akibat kemacetan.
“Biasanya antar anak cuma 15 menit, sekarang bisa 40 menit saking macetnya,” ungkap Musna.
Meski menilai pembelajaran daring sebagai solusi darurat yang tepat, Musna tetap mengkhawatirkan kendala teknis. Salah satunya gangguan pemadaman listrik yang dapat berdampak terhadap kualitas jaringan internet.
Ia berharap persoalan kelangkaan BBM di Kabupaten Maros segera teratasi sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. (*)

Tinggalkan Balasan