MAKASSAR – Kualitas udara Kota Makassar menjadi perhatian setelah beredar informasi indeks kualitas udara yang menunjukkan kondisi buruk.
Pemerintah diminta menelusuri sumber pencemaran dan mengambil langkah penanganan untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Anggota DPRD Makassar, dr Fahrizal Arrahman Husain, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi gangguan pernapasan akibat paparan polusi udara, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
“Memang sangat mengganggu, sangat bahaya untuk masyarakat kalau terus-terusan kita menghirup udara seperti begini,” kata Fahrizal, Senin (12/10/2026).
Politisi PKB itu menilai penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah merupakan salah satu langkah untuk mengurangi paparan polutan.
Namun, upaya perlindungan tersebut perlu dibarengi penanganan sumber pencemaran agar masalah tidak berlarut-larut.
Fahrizal menduga kondisi udara yang dikeluhkan masyarakat berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan dan Papua.
Meski demikian, ia mengaku belum mengetahui secara pasti sumber polusi yang memengaruhi Makassar.
“Karena kan kita juga tidak tahu ini udara dari mana, tapi kalau dari berita ya kita mendengar yang dari karhutla di wilayah Kalimantan dan Papua,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta pemerintah melakukan pemantauan dan pemeriksaan kualitas udara untuk memastikan penyebabnya.
Jika karhutla terbukti menjadi salah satu sumber pencemaran, pemerintah pusat diharapkan mempercepat penanganan kebakaran tersebut.
Fahrizal juga mengusulkan rekayasa cuaca sebagai salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan untuk membantu mengatasi kondisi udara.
Menurutnya, penanganan polusi perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.
“Kalau bisa ya, kalau saya sarannya sih ada rekayasa cuaca, kalau begini seperti ya pembuatan hujan buatan seperti begitu,” jelasnya.
Dokter Fahrizal Arrahman Husain MBBS, merupakan dokter asal Makassar yang menempuh pendidikan kedokteran di China sebelum melanjutkan pendidikan adaptasi dan profesi dokter di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.
Lahir di Ujung Pandang pada 3 Juni 1993, Fahrizal mengawali pendidikan menengahnya di SMA Negeri 17 Makassar pada 2008–2011.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Capital Medical University, Beijing, China, pada 2012–2018 untuk menempuh pendidikan S1 Kedokteran.
Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran di China, Fahrizal kembali ke Makassar untuk menjalani pendidikan adaptasi dan profesi dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin pada 2019–2020.
Perjalanan pendidikannya tersebut menjadi bagian dari proses yang mengantarkannya memasuki dunia pelayanan kesehatan di Indonesia.
Pada 2021–2022, Fahrizal menjalani program dokter internship di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Makassar, yakni Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia, Puskesmas Jongaya, dan Puskesmas Makkasau.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan menjalani praktik pelayanan medis di rumah sakit maupun puskesmas.
Selain pendidikan formal dan pengalaman praktik, Fahrizal juga mengikuti berbagai pelatihan untuk memperkuat kompetensi profesionalnya sebagai dokter.
Pada Maret 2022, ia mengikuti pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) yang diselenggarakan Indonesian Heart Association atau Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).
Pelatihan tersebut berkaitan dengan penanganan kegawatdaruratan kardiovaskular dan resusitasi jantung tingkat lanjut.
Sebelumnya, pada Juli 2021, Fahrizal mengikuti Lokakarya Reguler Etika dan Hukum Profesi Dokter yang diselenggarakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Ia juga mengikuti pelatihan tata laksana vaksinasi COVID-19 bagi dokter, perawat, dan bidan melalui Ikatan Dokter Indonesia pada Juni 2021.
Pada bulan yang sama, Fahrizal mengikuti Modul Tanggap Pandemi COVID-19 untuk Peserta Program Internship Indonesia melalui Online Course IMERI (OCI), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ketertarikan Fahrizal terhadap pengembangan ilmu kedokteran juga terlihat dari partisipasinya dalam sejumlah kegiatan ilmiah.
Pada April 2019, ia mengikuti Celebes Nephro-Endo Metabolic Update (CNEMU V) yang diselenggarakan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Setahun sebelumnya, pada Mei 2018, ia mengikuti 3rd ENT Masterclass di Beijing, China, yang berkaitan dengan bidang telinga, hidung, tenggorokan (THT) serta bedah kepala dan leher di Friendship Hospital, Beijing.
Fahrizal juga tercatat mengikuti kursus bahasa Mandarin di Provinsi Wuhan, China. Pengalaman tersebut melengkapi perjalanan pendidikannya selama berada di luar negeri.(*)

Tinggalkan Balasan