SULSELONLINE.COM – Panji Tengkorak akhirnya tayang di bioskop. Adaptasi dari komik legendaris era 60–70-an ini awalnya digadang-gadang sebagai momentum besar kebangkitan animasi Indonesia.

Namun, alih-alih panen pujian, film ini justru menuai kritik tajam karena visualnya dianggap mirip animasi PowerPoint. Sejak trailer pertama dirilis, publik sebenarnya menaruh harapan besar. Gaya 2D yang brutal, penuh darah, dan berani mengambil rating 13+ dipandang langkah progresif di tengah dominasi animasi anak-anak.

Karakter Panji Tengkorak sendiri memiliki daya tarik unik. Sosok pendekar bertopeng tengkorak yang berakar dari ilmu hitam menjadikannya anti-hero lokal setara Punisher milik Marvel. Sayangnya, ekspektasi tersebut runtuh ketika film hadir di layar lebar. Penonton mengeluhkan inkonsistensi gambar, anatomi tubuh yang berubah-ubah, serta latar belakang yang diulang-ulang. Alih-alih sinematis, detail kasar itu justru membuat mata cepat lelah.

Kekurangan juga tampak pada pengisian suara. Dialog penjahat dinilai klise, dengan tawa jahat bak sinetron, sehingga terdengar canggung. Adegan emosional pun gagal berpadu dengan musik, meski melibatkan nama besar seperti Iwan Fals dan Isyana Sarasvati lewat lagu Bunga Terakhir. Alih-alih menyentuh, banyak penonton justru merasa asing dengan adegan-adegan tersebut.

Meski begitu, Panji Tengkorak tetap menyimpan niat mulia: menghidupkan kembali warisan komik lokal sekaligus membuka jalan bagi animasi dewasa di Indonesia. Sayangnya, keterbatasan teknis, penulisan, dan penyutradaraan membuat ambisi ini belum maksimal.

Banyak ulasan memberi skor rendah, bahkan ada yang menyebutnya “5,2/10 alias sampah”. Meski begitu, film ini tetap menjadi perbincangan hangat. Pertanyaannya kini, apakah Panji Tengkorak akan diingat sebagai kegagalan teknis atau justru dikenang sebagai langkah awal berani dalam sejarah animasi Indonesia? (*)