MAKASSAR — Ibu Kota Sulawesi Selatan dikepung gelombang unjuk rasa pada Senin (8/9/2025). Sedikitnya 13 kelompok mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan dengan isu beragam, mulai dari dugaan pemukulan aparat, korupsi, lingkungan, hingga pelayanan publik.
Aksi dimulai pukul 08.00 Wita oleh Amarah Rakyat Bersatu dengan 500 orang massa. Mereka bergerak dari Jalan Baru Alternatif Antang menuju Kantor Gubernur Sulsel dan kantor aplikator Maxim di Gowa, menuntut pemerintah segera menuntaskan aspirasi rakyat.
Pada pukul 10.00 Wita, Aliansi Mahasiswa Bersatu Aksi menggelar protes di Polda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, terkait dugaan pemukulan oleh Kapolres Sinjai saat demonstrasi di DPRD setempat.
Menjelang siang, pukul 13.00 Wita, gelombang aksi makin besar. Gerakan Mahasiswa Peduli Hukum Sulsel (60 orang) berdemonstrasi di Kejati Sulsel dan Flyover Pettarani soal dugaan korupsi anggaran rumah tangga DPRD Tana Toraja. Hampir bersamaan, Aliansi Mahasiswa Makassar Anti Rasis (AMMAR) (30 orang) menggelar aksi di Yayasan Budi Luhur, menyoroti isu rasisme dan ketiadaan IPAL.
Isu lingkungan juga mencuat. Persatuan Lingkaran Aktivis Sulsel (80 orang) menuntut transparansi izin amdalalin di KFC Gelael, Kantor Wali Kota, dan PTSP Makassar. Di sisi lain, Mahasiswa Peduli Rakyat (MPR) (50 orang) berunjuk rasa di Kantor Dinas Pariwisata, mengecam pelanggaran surat edaran oleh pelaku usaha hiburan malam.
Di Kejati Sulsel, Kesatuan Aktivis Mahasiswa Indonesia (100 orang) menyoroti dugaan nepotisme pengadaan buku di Takalar. Sementara PERKARA Makassar (50 orang) menuding masih beroperasinya hiburan malam saat peringatan Maulid Nabi.
Rentetan aksi lain juga padat. Himpunan Mahasiswa Manajemen Indonesia Wilayah VI (200 orang) mendatangi Ditlantas Polda Sulsel, Mapolda, hingga rumah jabatan Kapolda, memprotes dugaan pungli mutasi kendaraan. Forum Solidaritas Mahasiswa dan Pelajar Papua (100 orang) menuntut kejelasan pemindahan tahanan politik di Flyover Ujung Pandang.
Di titik berbeda, Formasi (48 orang) memprotes penyalahgunaan fasilitas umum di Kecamatan Rappocini, sementara AMERTA (50 orang) berunjuk rasa di RS Wahidin dan Polrestabes Makassar, mendesak penanganan limbah medis dan alat kesehatan.
Sebagai penutup, pukul 13.00 Wita, Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Makassar Menggugat (150 orang) menuding kelalaian aparat dalam pengamanan aksi sebelumnya yang menelan korban jiwa.
Dengan ragam isu dan ribuan massa di berbagai titik strategis, Makassar diperkirakan dipenuhi suara toa, spanduk tuntutan, serta barisan aparat yang siaga menjaga situasi tetap kondusif.(*)

Tinggalkan Balasan