JAKARTA — Harga emas dunia melonjak ke rekor tertinggi di atas 4.100 dolar AS per troy ons (sekitar Rp 68 juta) atau setara Rp 2,1 juta per gram pada Selasa (14/10/2025). Kenaikan tajam ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, kekhawatiran baru terkait hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China turut mendorong minat terhadap aset aman (safe haven) seperti emas dan perak. Perak bahkan turut mencatat level tertinggi sepanjang masa.
Harga emas spot naik 1,7 persen ke rekor 4.179,48 dolar AS per troy ons (sekitar Rp 69,3 juta) pada pukul 05.21 GMT. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 1,3 persen menjadi 4.187,50 dolar AS.
Sejak awal tahun, harga emas telah melesat 57 persen dan menembus ambang psikologis 4.100 dolar AS untuk pertama kalinya pada Senin (13/10/2025). Reli logam mulia ini ditopang oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, ekspektasi pemangkasan suku bunga, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, serta arus masuk kuat ke reksa dana berbasis emas (exchange-traded fund/ETF).
Beberapa lembaga keuangan besar kini memperkirakan reli emas masih berlanjut. Bank of America dan Société Générale memproyeksikan harga emas bisa mencapai 5.000 dolar AS pada 2026, sementara Standard Chartered menaikkan perkiraannya untuk 2026 menjadi 4.488 dolar AS.
Harga perak spot juga melonjak 2,2 persen ke 53,60 dolar AS, didorong oleh faktor serupa yang mengangkat harga emas serta kondisi pasokan yang semakin ketat di pasar fisik.
“Ketegangan dagang bukan menjadi pendorong utama reli hari ini. Faktor yang lebih dominan adalah meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan melanjutkan penurunan suku bunga acuannya, yang menurunkan biaya pendanaan jangka panjang dan mengurangi opportunity cost kepemilikan emas,” ujar Analis Pasar Senior OANDA, Kelvin Wong.
Presiden Federal Reserve Philadelphia, Anna Paulson, menegaskan bahwa meningkatnya risiko terhadap pasar tenaga kerja memperkuat alasan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga lebih lanjut.
Investor kini menantikan pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam pertemuan tahunan NABE pada Selasa ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS.
Pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 99 persen untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober dan 94 persen pada Desember mendatang. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas—yang tidak memberikan imbal hasil—cenderung menguat.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut Presiden Donald Trump masih dijadwalkan bertemu Presiden China, Xi Jinping, di Korea Selatan pada akhir Oktober. Ketegangan meningkat setelah China memperluas pengendalian ekspor logam tanah jarang (rare earth), yang dibalas Trump dengan ancaman tarif 100 persen terhadap barang-barang asal China serta pembatasan ekspor perangkat lunak penting buatan AS mulai 1 November.
Bessent juga mengungkapkan bahwa penutupan sebagian pemerintahan federal AS yang telah berlangsung selama 13 hari mulai menekan perekonomian negara tersebut.
Di pasar logam mulia lainnya, harga platinum naik 1,9 persen menjadi 1.677 dolar AS, sementara paladium menguat 2,1 persen ke 1.505,75 dolar AS.(*)

Tinggalkan Balasan