SULSELONLINE.COM – Suasana Dusun Pakere, Desa Bontotallasa, tampak berubah sejak Jembatan Haji Bohari ambruk pada 20 November lalu. Jika biasanya terdengar deru motor warga yang melintas menuju Kota Maros, kini hanya tampak rangka jembatan yang patah, besi-besi tua yang mencuat, dan aliran sungai yang terus menggerus fondasinya.
Jembatan yang telah berusia sekitar 20 tahun itu akan dirobohkan pada 2 Desember sebagai langkah awal pembangunan ulang. Bagi warga, jembatan sepanjang 50 meter dan lebar 3 meter ini bukan sekadar sarana penghubung—melainkan jalur utama menuju pusat kabupaten untuk bekerja, berdagang, berobat, hingga menyekolahkan anak.
Sejak runtuhnya jembatan, ribuan warga terpaksa memutar sejauh 3 kilometer. “Biasanya cuma 10 menit sampai jalan raya. Sekarang bisa 30 menit lebih,” keluh seorang ibu rumah tangga yang setiap hari mengantar anaknya belajar mengaji di kampung seberang.
Retakan pertama pada jembatan muncul sejak Februari. Erosi akibat curah hujan tinggi perlahan mengikis fondasi, hingga akhirnya jembatan itu tak lagi mampu menahan tekanan air pada malam hujan deras 20 November.
Bupati Maros, Chaidir Syam, menegaskan bahwa pembongkaran material lama sangat penting untuk menghindari risiko kecelakaan. “Kalau tidak dibersihkan, banyak hal yang bisa terjadi. Siapa yang mau tanggung jawab kalau ada orang yang masih menggunakan jembatan itu padahal rawan?” ujarnya usai mengikuti rapat Evaluasi Kinerja, Jumat (30/11/2025).
Chaidir juga mengingatkan bahwa sisa material jembatan berpotensi tersangkut pohon besar saat hujan deras dan memicu banjir. “Setelah pembersihan, baru pondasinya kita bangun. Kami harap warga memahami prosesnya,” katanya.
Beberapa warga sempat mengusulkan pembangunan jembatan darurat. Namun Chaidir menolak karena mempertimbangkan faktor keselamatan. “Di sana masih ada akses lain. Jangan lihat enaknya saja. Keamanan warga yang utama,” tegasnya. Ia juga khawatir jembatan darurat justru membahayakan warga yang melintas pada malam hari.
Untuk anak sekolah, pemerintah kini memetakan kembali lokasi pendidikan terdekat. “Kalau ada sekolah yang terdampak, siswanya akan dipindahkan sementara agar tidak perlu menyeberang,” tambahnya.
Pembangunan ulang jembatan direncanakan melalui skema multiyears mulai 2026 dengan total anggaran Rp25 miliar. Pada tahun pertama, Pemkab Maros menyiapkan Rp3 miliar untuk tahap awal. “Kami juga usulkan ke pemerintah pusat. Semoga bisa dibantu, karena jembatan ini sangat vital, terutama untuk akses anak sekolah,” ujar Chaidir.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTRPP Maros, Muhammad Alif Husnaeni, menyampaikan bahwa pembongkaran dilakukan untuk menjaga aliran sungai tetap lancar dan mencegah kecelakaan. “Risiko kecelakaan sangat besar kalau warga masih nekat lewat,” ujarnya. Proposal bantuan telah diajukan ke Kementerian PUPR. “Mudah-mudahan ada hasil baik,” tambahnya.(*)

Tinggalkan Balasan