MAROS – Nama Farhan Gunawan kini menjadi bagian dari duka mendalam dunia penerbangan nasional. Co-pilot pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026), itu dikenal sebagai sosok muda berprestasi sejak bangku sekolah.
Farhan merupakan alumnus Sekolah Islam Athirah Makassar. Di lingkungan sekolah, ia bukan sekadar siswa biasa. Eks Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, mengenang Farhan sebagai pribadi aktif dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
“Farhan pernah menjadi Ketua OSIS SMP Islam Athirah periode 2014–2015 dan Ketua OSIS SMA Islam Athirah periode 2016–2017,” ujar Syamril, Minggu (18/1/2026).
Farhan menamatkan pendidikan SMP pada 2016 dan melanjutkan ke SMA Islam Athirah hingga lulus. Selepas itu, langkah hidupnya diarahkan ke langit. Ia memilih menempuh pendidikan di Akademi Penerbangan Indonesia, mengukuhkan mimpinya menjadi penerbang profesional.
Mimpi itu membawanya duduk di kursi kanan kokpit pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT. Namun, penerbangan tersebut menjadi perjalanan terakhirnya ketika pesawat dilaporkan hilang kontak sebelum akhirnya ditemukan jatuh di kawasan hutan Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Pangkep.
Sejak Minggu dini hari, keluarga Farhan telah tiba di posko keluarga penumpang yang didirikan di Kantor Divisi Security Bandara Sultan Hasanuddin. Mereka datang dari Malili menggunakan satu mobil.
“Yang datang satu mobil dari Malili,” ujar paman Farhan, Haji Wahyu.
Kedua orang tua Farhan tidak ikut hadir ke posko. Kondisi kesehatan sang ibu dilaporkan menurun saat tiba di Makassar dan harus menjalani perawatan. Ayah Farhan memilih tetap mendampingi istrinya.
“Ayah Farhan sedang menjaga ibu Farhan yang sementara dirawat,” kata Haji Wahyu.
Selain keluarga Farhan, keluarga pilot Andy Dahananto juga dilaporkan mendatangi posko tersebut. Posko keluarga penumpang menjadi pusat informasi resmi terkait proses pencarian dan evakuasi pesawat.
Sementara itu, operasi pencarian pesawat ATR 42-500 masih terus berlangsung di wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep. Ratusan personel SAR gabungan dikerahkan. Helikopter milik Lanud Sultan Hasanuddin melakukan penyisiran udara di kawasan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyebut total 476 personel terlibat dalam operasi ini, terdiri dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, Basarnas, AirNav, Paskhas, serta dukungan masyarakat setempat.
Penyisiran udara dan darat dilakukan di lima sektor. Sejumlah serpihan pesawat telah ditemukan, mulai dari bagian jendela hingga badan dan ekor pesawat, yang tersebar di medan terjal dan jurang curam. Kondisi ekstrem membuat tim SAR masih mengkaji metode terbaik untuk menurunkan personel, termasuk penggunaan teknik rappelling dan peralatan mountaineering.
Di balik operasi besar itu, tersimpan kisah-kisah personal yang menyayat. Salah satunya adalah Farhan Gunawan, mantan ketua OSIS yang pernah memimpin teman-temannya di sekolah, kini dikenang sebagai anak muda yang mengabdikan hidupnya untuk dunia penerbangan—dan mengakhiri perjalanannya di langit Sulawesi Selatan.(*)

Tinggalkan Balasan