MAKASSARBank Sampah Pusat Makassar terus mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan membeli sedikitnya 43 jenis sampah anorganik dari warga.

Pembelian dilakukan melalui jaringan Bank Sampah Unit (BSU) yang tersebar di tingkat RT dan RW di Kota Makassar. Setiap jenis sampah memiliki harga berbeda, tergantung kategori dan kualitas pemilahannya. Semakin baik proses pemilahan yang dilakukan warga, semakin tinggi pula nilai jualnya.

Beberapa contoh harga yang ditetapkan antara lain:

  • Gelas bening bersih Rp4.900 per kilogram

  • Gelas bening kotor Rp2.500 per kilogram

  • Kertas putih Rp1.700 per kilogram

  • Besi Rp3.200 per kilogram

  • Tembaga kabel Rp100.000 per kilogram

  • Sedotan selai hitam Rp1.200 per kilogram

Kepala Tata Usaha Bank Sampah Pusat Makassar, Juardi, mengatakan hingga saat ini terdapat sekitar 350 BSU RT/RW yang telah menjalin kerja sama resmi. Meski jumlah tersebut cukup signifikan, ia menilai masih belum sebanding dengan jumlah RT dan RW yang ada di Kota Makassar.

“Masih kurang. Harusnya setiap RW punya bank sampah, karena itu juga jadi indikator kebersihan wilayah,” ujar Juardi, Minggu (15/2/2026).

Menurut Juardi, pembentukan BSU diawali dengan penyusunan struktur kepengurusan, mulai dari ketua, sekretaris, hingga bendahara. Setelah itu, pengurus melapor ke pihak kelurahan untuk mendapatkan Surat Keputusan (SK) sebagai dasar legalitas.

Setelah SK diterbitkan, BSU melapor ke Bank Sampah Pusat Makassar untuk menjalin kerja sama resmi, termasuk sistem penjemputan dan pembelian sampah yang telah dipilah warga.

Setiap BSU menerima daftar harga sekitar 43 jenis sampah anorganik yang dapat dijual. Kualitas pemilahan menjadi faktor utama dalam menentukan nilai jual.

“Ada sosialisasi cara pemilahannya supaya nilai ekonominya tinggi. Misalnya botol plastik dilepas dulu labelnya, itu harganya lebih tinggi,” jelasnya.

Untuk memastikan kualitas pemilahan terus meningkat, pihak Bank Sampah Pusat rutin melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada BSU yang baru terbentuk. Tim pendamping turun langsung memberikan edukasi teknik pemilahan agar nilai jual sampah maksimal.

“Kalau sudah terbentuk bank sampahnya, kami turun sosialisasi dan ada pendamping yang mengajari cara memilah supaya harganya maksimal,” tambah Juardi.

Mekanisme penjemputan dilakukan berdasarkan laporan dari masing-masing BSU sehari sebelum pengangkutan. Armada disesuaikan dengan volume sampah.

“Kalau lima karung, mobil kecil. Kalau lebih dari 10 karung, mobil besar yang diarahkan. Jadi harus telepon satu hari sebelumnya supaya terjadwal,” katanya.

Sampah yang telah dijemput kemudian ditampung di Bank Sampah Pusat Induk yang berlokasi di Jalan Toddopuli Raya. Dari lokasi tersebut, sampah diambil oleh pihak rekanan untuk diproses dan didaur ulang.

Terkait sistem pembayaran, transaksi dilakukan setiap kali pengangkutan. Setelah sampah ditimbang dan diproses, pembayaran langsung ditransfer ke rekening masing-masing BSU.(*)