Di tanah panas yang menyimpan rasa, ada satu hidangan yang tak sekadar mengenyangkan—ia bercerita dan selalu mengajak untuk kembali.
Coto Ayam Kampung Daeng Lau, Jeneponto
Beranjak ke Jeneponto tanpa mencicipi coto ayam kampung Daeng Lau, rasanya seperti melewatkan satu bab penting dalam perjalanan. Berbeda dari coto pada umumnya yang berbahan daging sapi, di sini kehangatan kuahnya lahir dari ayam kampung pilihan—lebih ringan, namun tetap kaya rasa.
Sekali suap, bukan hanya lidah yang dimanjakan, tetapi juga hati yang diajak kembali. Ada kerinduan yang pelan-pelan tumbuh, membuat siapa pun ingin datang lagi, dan lagi.
Warung sederhana ini berdiri di Jalan Sungai Kelara, Empoang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Dengan harga yang bersahabat—sekitar Rp35.000 per porsi—setiap mangkuknya adalah hasil dari perjalanan panjang sebuah usaha turun-temurun.
Daeng Lau tidak sekadar memasak; ia menjaga warisan. Puluhan tahun ia tekuni usaha ini, dengan bahan baku terbaik yang didatangkan dari Sidenreng Rappang, Pinrang, dan daerah sekitarnya. Ayam yang dipilih bukan sembarang ayam—ayam kampung jantan berusia lebih dari satu tahun, menghadirkan cita rasa yang lebih dalam dan autentik.
Setiap harinya, warung ini tak pernah sepi. Warga lokal dan para pelintas berhenti, bukan hanya untuk makan, tetapi untuk merasakan sesuatu yang jujur—rasa yang lahir dari kesabaran, tradisi, dan cinta pada kuliner.
Sehari ia bisa menghabiskan 10 ekor ayam jantan dewasa. seekor ayam menghasilkan 10 mangkuk coto. Ayo dihitung sendiri berapa porsi yang bisa dijual perhari.
Di balik semangkuk coto, ada pelajaran sederhana:
bahwa hal-hal yang dikerjakan dengan sepenuh hati akan selalu menemukan jalannya ke hati orang lain.
Bonusnya, pelayan akan menyapa Anda dengan sopan penuh senyum.
“Selamat datang Karaeng, mau pesan apa Karaeng,?

Tinggalkan Balasan