DI antara heningnya sungai dan megahnya tebing karst Rammang-Rammang, Desa Salenrang, Maros, seorang lelaki sederhana mencoba peruntungan baru. Namanya Irwan, akrab disapa Iwan.
Ia bukan pemandu wisata, bukan pula pengemudi perahu yang saban hari mengantar turis menyusuri hutan bakau. Ia memilih jalan lain: membuat perahu.
Berawal dari layar ponsel dan pelajaran otodidak lewat YouTube, mantan petani ini tekun menyimak cara-cara mengolah fiber menjadi perahu.
Kuota internet habis, waktu terbuang, tapi semangatnya tak pernah surut karena ilmunya bertambah.
“Dalam satu tahun ini saya sudah membuat lima perahu fiber. Hasilnya lumayan, cukup membuat dapur tetap berasap,” tutur Iwan, saat ditemui Minggu (7/9/2025).
Ia memilih membuat perahu berbahan fiber karena lebih mudah membuatnya. Iwan tak berani membuat perahu kayu karena bahan bakunnya sulit ditemukan dan waktu pembuatannya lama.
Kini, pesanan pun mulai berdatangan. Harga perahu bervariasi, tergantung ukuran dan kapasitas tempat duduk. Hari itu, ia sedang menyiapkan perahu berukuran 1,5 x 9,5 meter, yang ia banderol Rp35 juta.
Wisata Kelas Dunia
Rammang-Rammang bukan sekadar nama, ia adalah lanskap kabut yang turun di antara bukit kapur, seakan menyembunyikan rahasia alam purba. Letaknya sekitar 40 kilometer dari Makassar, hanya sejam perjalanan darat melewati jalur Trans-Sulawesi. Kawasan karst Maros-Pangkep yang membingkai tempat ini diakui dunia sebagai salah satu bentang alam karst terluas dan terindah di muka bumi.
Setiap wisatawan disambut dengan perjalanan perahu di Sungai Pute, airnya tenang, pepohonan bakau berbaris, dan tebing karst menjulang bagai dinding raksasa.
Sesekali kita akan berpapasan dengan penduduk lokal yang juga sedang mengendarai sampan.
Perjalanan berlanjut ke Kampung Berua, desa kecil di jantung hutan batu, dengan hamparan sawah yang berkilau hijau di bawah bayangan bukit kapur. Ada pula Gua Berlian, Gua Bulu’ Barakka, hingga Telaga Bidadari—setiap sudut menyimpan kisah batu, air, dan waktu.
Rammang-Rammang adalah surga bagi pencinta fotografi, peneliti, dan siapa pun yang mencari ketenangan. Flora-fauna endemik Sulawesi menjadikan kawasan ini laboratorium alam terbuka.
Sementara bagi warga Makassar, tempat ini adalah destinasi singkat yang murah, indah, sekaligus mendunia.
Biaya sewa perahu pun relatif terjangkau, mulai dari Rp250 ribu untuk rombongan 5–7 orang. Dari atas perahu inilah, wisatawan bisa menyusuri sungai, menjelajah hutan batu, hingga singgah di perkampungan tradisional yang menyimpan denyut hidup warga lokal.
Rammang-Rammang bukan hanya wisata, ia adalah kisah. Kisah manusia yang menyatu dengan alam, dan kisah Iwan yang menjadikan perahu bukan sekadar kendaraan, melainkan jalan menuju harapan.(lim)

Tinggalkan Balasan