SULSELONLINE.COM – Maryam adalah sosok wanita yang sangat mulia dalam Islam. Kisahnya tidak hanya diabadikan dalam Al-Qur’an, tetapi juga terus menginspirasi umat hingga hari ini. Dua peninggalannya yang masih bisa kita rasakan adalah roti Maryam dan mihrab, tempat beribadah yang kini ada di setiap masjid.

Roti Maryam, menurut sebagian riwayat, adalah makanan yang selalu tersedia di tempat Maryam beribadah, yakni mihrab. Sementara mihrab sendiri awalnya adalah tempat khusus Maryam dalam beribadah sebelum masjid-masjid seperti sekarang berdiri.

Suatu hari, Nabi Isa—putra Maryam yang lahir tanpa ayah—mengajak ibunya untuk beribadah di sebuah bukit sunyi di wilayah sekitar Lebanon. Di tempat sunyi itu, mereka berdzikir dan mengagungkan asma Allah. Ketika Nabi Isa pergi sebentar untuk mengumpulkan bekal berupa dedaunan dan air hujan, Maryam ditinggalkan sendiri.

Dalam kesendiriannya, Maryam didatangi oleh malaikat pencabut nyawa. Tubuhnya gemetar hebat saat mengetahui bahwa ajalnya telah tiba. Ia memohon agar malaikat menunggu sampai Nabi Isa kembali, namun malaikat menjelaskan bahwa ia hanya menjalankan perintah Allah yang tak bisa ditunda.

Maryam pun kembali ke mihrabnya dan berdiam dalam ibadah. Tak lama kemudian, Nabi Isa kembali. Ia mendapati ibunya dalam keadaan tak bernyawa. Tangisnya pecah, menyadari bahwa wanita mulia yang membesarkannya telah berpulang.

Nabi Isa turun dari bukit untuk mencari bantuan menguburkan jenazah Maryam, namun penduduk menolak karena takut terhadap binatang buas di bukit tersebut. Ia kembali ke jenazah ibunya dalam kesedihan mendalam.

Di saat itulah, para malaikat di langit mendengar kabar wafatnya Maryam. Mereka pun turun ke bumi untuk membantu Nabi Isa menguburkan wanita suci tersebut. Maryam menjadi salah satu dari sedikit manusia yang kematiannya diratapi langit.

Maryam adalah putri dari pasangan Imran dan Hana binti Faqudz. Sejak kecil, ia dinazarkan untuk berkhidmat di Baitulmakdis. Allah SWT menerima nazar tersebut dan menyerahkan Maryam ke dalam asuhan Nabi Zakariya, pamannya.

Dalam QS Ali Imran: 37, Allah SWT berfirman:

“Maka Tuhannya menerima Maryam dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, serta menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakariya. Setiap kali Zakariya masuk menemuinya di mihrab, dia menemukan makanan di sisinya…”

Dikisahkan dalam berbagai tafsir, Maryam menerima makanan dan buah-buahan di luar musim sebagai karunia langsung dari Allah. Ketika Nabi Zakariya bertanya dari mana datangnya rezeki itu, Maryam menjawab, “Itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.”

Ketika Hana menyerahkan Maryam ke Baitulmakdis, para rahib berebut untuk mengasuhnya. Mereka sepakat melakukan undian di Sungai Yordan dengan cara melempar anak panah ke sungai. Anak panah milik Nabi Zakariya-lah yang meluncur melawan arus dan muncul di permukaan, sementara panah lainnya hanyut. Maka, Nabi Zakariya-lah yang dipercaya merawat Maryam.

Surat ke-19 dalam Al-Qur’an dinamakan Surat Maryam, menjadikan Maryam satu-satunya wanita yang namanya diabadikan sebagai nama surat. Turun di Makkah, surat ini merupakan salah satu yang paling sering dikaji, baik dari sisi kisah maupun pesan-pesan spiritualnya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah menamai anak perempuan seorang sahabat dengan nama Maryam karena malam itu juga surat Maryam diturunkan. Dari situlah, sahabat tersebut dikenal sebagai Abu Maryam, padahal nama aslinya adalah Nadzir.(*)