MAKASSAR – Lima mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia mengembangkan prototipe mobil berbahan bakar ramah lingkungan berbasis reaksi kimia hidrogen sebagai upaya menjawab tantangan krisis energi dan perubahan iklim.
Inovasi tersebut digagas oleh tim “Petroline” yang terdiri dari Mutiara Dwi Puspitasari, Dimas Rosikhul Fikri, Andi Tenri Awaru, Kabri (Teknik Kimia), serta Khaeril Ahyar dari Teknik Mesin FTI UMI.
Pengembangan prototipe ini merupakan bagian dari riset mahasiswa di bidang teknologi energi alternatif yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dalam proses penelitian hingga perakitan, tim mendapat pendampingan dari dosen pembimbing Jurusan Teknik Kimia FTI UMI, Andi Rina Ayu Astuti.
Rencananya, inovasi tersebut akan diikutsertakan dalam ajang Indonesia Chemical Reaction Car Competition 2026 yang digelar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada Mei mendatang. Kompetisi ini diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk peserta internasional dari Thapar Institute of Engineering and Technology.
Ketua tim, Mutiara Dwi Puspitasari, menjelaskan bahwa prototipe mobil tersebut dibangun menggunakan sejumlah komponen khusus yang dirancang untuk menunjang sistem kerja kendaraan. Di antaranya roda dan lantai berbahan akrilik fiber glass, serta reaktor tabung berbahan stainless steel 304 yang dilapisi kain fiber glass tahan panas.
Selain itu, kendaraan dilengkapi indikator tekanan gas, regulator tekanan, hingga silinder yang terhubung langsung dengan roda penggerak.
Ia menjelaskan, sumber energi utama kendaraan berasal dari larutan kimia yang dimasukkan ke dalam tabung reaktor melalui sistem khusus. Larutan tersebut kemudian bereaksi menghasilkan gas yang digunakan untuk menggerakkan silinder hingga roda kendaraan dapat berputar.
“Ini menggunakan bahan bakar dari reaksi kimia berbasis hidrogen,” ujar Mutiara, Selasa (7/4/2026).
Penelitian ini dimulai sejak Januari 2026, diawali dengan pembentukan tim dan riset berbagai reaksi kimia yang mampu menghasilkan gas sebagai sumber energi. Dalam prosesnya, tim melakukan tiga kali percobaan dengan formula berbeda sebelum menemukan komposisi yang tepat dan ramah lingkungan.
Setelah mendapatkan formulasi yang sesuai, tim melanjutkan ke tahap perancangan hingga pembangunan prototipe. Hasil uji coba menunjukkan gas yang dihasilkan mampu menggerakkan roda kendaraan secara optimal.
Dalam pengujian, prototipe ini mampu melaju sejauh 10 meter hanya dengan menggunakan 50 hingga 100 miligram larutan kimia.
“Penelitian ini melibatkan lima mahasiswa dan satu dosen pembimbing sejak Januari hingga sekarang,” ungkapnya.
Saat ini, tim Petroline masih terus melakukan penyempurnaan guna meningkatkan performa kendaraan sebelum mengikuti kompetisi.
Sementara itu, dosen pembimbing, Andi Rina Ayu Astuti, menilai inovasi tersebut memiliki keunggulan utama pada aspek ramah lingkungan. Ia menjelaskan, hasil akhir dari reaksi kimia berbasis hidrogen hanya menghasilkan oksigen dan air.
“Keunggulan produk ini adalah hasil akhirnya berupa oksigen, yang juga kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Menurutnya, dibandingkan kendaraan konvensional yang menghasilkan karbon dioksida, inovasi ini berpotensi menjadi solusi untuk menekan dampak pemanasan global. Selain itu, bahan bakar berbasis hidrogen dinilai lebih ekonomis dan relatif mudah diperoleh dibandingkan bahan bakar minyak.
“Ini tentu lebih murah dibanding BBM saat ini, karena berbasis hidrogen yang juga lebih mudah didapatkan,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan