SULSELONLINE.COM – Peringatan Hari Kartini pada 21 April mengingatkan kita pada sosok perempuan pejuang emansipasi yang juga memiliki semangat tinggi dalam memahami ajaran Islam.

Dalam salah satu suratnya yang dikutip oleh sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku Api Sejarah, Kartini mengungkapkan kegelisahannya karena tidak memahami isi Al-Qur’an akibat kendala bahasa. Ia menulis kepada sahabatnya, Stella:

“Qur’an terlalu suci tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun juga. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar membaca Qur’an tetapi yang dibacanya tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah semacam itu?”

Namun, pandangannya berubah setelah membaca tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa karya KH Shaleh Darat, seorang ulama asal Semarang. Dalam surat lainnya, Kartini menulis:

“Alangkah bebalnya, bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al-Qur’an) di samping kami.”

“Kami tidak perlu mencari pelipur hati pada manusia, kami hanya berpegang teguh pada tangan Allah.”

KH Shaleh Darat adalah guru Kartini dan juga tokoh penting dalam penyebaran ilmu tafsir. Ia pernah menjadi guru dari KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Atas permintaan Kartini, ia menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab pegon, agar tidak dicurigai oleh pemerintah kolonial Belanda yang saat itu melarang penerjemahan kitab suci.

Tafsir ini kemudian dibukukan dalam Kitab Faid ar-Rahman, kitab tafsir pertama dalam bahasa Jawa. Kartini menerima kitab ini sebagai hadiah pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Ia sangat terkesan, terutama dengan tafsir surat Al-Fatihah:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang.”

Kartini tak hanya menjadi ikon emansipasi, tapi juga contoh semangat pembelajaran dan pemahaman keagamaan yang dalam. Perjumpaannya dengan tafsir Al-Qur’an menjadi salah satu titik balik spiritual dalam hidupnya.(*)