MAROS – Di antara tebing batu kapur yang membelah perbukitan Sumpang Labbu, tersisa jejak sejarah dalam bentuk prasasti berbahasa Belanda. Tertulis kalimat yang menyiratkan harapan kolonial, “Deze weg opent een nieuwe toekomst voor Bone”, yang berarti “Jalan ini membuka masa depan baru bagi Bone.”
Tulisan itu menjadi saksi bisu dari ambisi besar Pemerintah Hindia Belanda dalam membangun jalur strategis penghubung Maros–Bone pada periode 1918–1928. Proyek ini melibatkan pembangunan verharde weg atau jalan beraspal yang membentang dari Bantimurung, Semanggi, Patunuang Asoe, Pangea, Kappang, Malaka, hingga Bengo. Di wilayah Taccipi, jalur ini kemudian berbelok ke arah timur dan terus mengarah ke Watampone, ibu kota Kabupaten Bone.
Terowongan Sumpang Labbu sendiri diyakini menjadi bagian penting dari infrastruktur tersebut, memungkinkan jalur kendaraan melintasi kawasan berbukit tanpa harus memutar terlalu jauh. Hingga kini, struktur terowongan yang menembus bukit kapur itu masih kokoh dan menjadi daya tarik sejarah yang mengundang kekaguman.
Informasi historis terkait proyek jalan ini juga tercatat dalam surat kabar kolonial De Locomotief edisi 5 Oktober 1928. Dalam pemberitaannya, disebutkan bahwa pembangunan jalan poros Maros–Bone menelan biaya besar sehingga sempat dihentikan oleh para buruh. Mereka melakukan protes akibat keterlambatan pembayaran dan beban kerja berat, sehingga proyek sempat mengalami penundaan.
Catatan tersebut memberi perspektif berbeda dari narasi yang selama ini berkembang di kalangan masyarakat lokal, yang menyebut bahwa pembangunan jalan tersebut dilakukan dengan metode kerja paksa (kerja rodi), sebuah praktik umum dalam proyek kolonial di era Hindia Belanda. Namun, tidak ditemukan bukti eksplisit dalam arsip Belanda terkait penerapan kerja paksa khusus untuk proyek ini. Meskipun demikian, konteks zaman dan pola kebijakan kolonial kala itu memungkinkan anggapan tersebut tetap hidup sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Sejarawan Universitas Hasanuddin, Dr. Syaiful Bahri, menyebut prasasti di Sumpang Labbu sebagai simbol kontradiktif dari kolonialisme. “Satu sisi menunjukkan semangat pembangunan, tapi di sisi lain tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa kolonial yang sarat eksploitasi,” ujarnya.
Kini, Terowongan Sumpang Labbu menjadi saksi bisu sejarah transportasi dan kolonialisme di Sulawesi Selatan. Upaya pelestarian dan interpretasi ulang atas situs ini dinilai penting untuk membangun kesadaran sejarah generasi muda, sekaligus menguak fakta-fakta masa lalu secara lebih utuh dan berimbang.(*)

Tinggalkan Balasan