MAROS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) terus mengembangkan program inovatif berupa Sekolah Lansia. Sejak diluncurkan pada 2023, program ini telah menjaring 150 warga lanjut usia (lansia) sebagai peserta aktif.

Sekolah lansia terbaru dibuka di Desa Marumpa, Kecamatan Marusu, dengan jumlah peserta mencapai 40 orang. Kepala DP3A Maros, Andi Zulkifli Riswan Akbar, menjelaskan bahwa hingga kini telah berdiri empat sekolah lansia di tiga kecamatan.

“Di Turikale ada dua sekolah dengan total 70 siswa, di Mandai satu sekolah dengan 40 siswa, dan yang terbaru di Marusu dengan 40 peserta juga,” ungkap Zulkifli, Kamis (17/7/2025).

Menurutnya, antusiasme para lansia membuktikan bahwa semangat belajar tak mengenal usia.

“Ini menunjukkan bahwa para lansia tetap ingin aktif, sehat, dan bermanfaat di lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Program sekolah lansia dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan peserta usia senja. Dalam satu periode, kegiatan berlangsung selama enam bulan dengan total 12 pertemuan. Materi pembelajaran mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual, seperti senam lansia, penguatan kesehatan mental, manajemen stres, hingga pengajian dan keterampilan praktis.

Zulkifli menyebut program ini merupakan hasil kolaborasi antara DP3A, pemerintah kecamatan, serta desa dan kelurahan. Respons masyarakat pun sangat positif, terbukti dari jumlah pendaftar di Desa Marumpa yang melebihi kuota.

“Antusiasme tinggi ini menjadi indikator bahwa program seperti ini sangat dibutuhkan, terutama di tingkat desa,” tambahnya.

Bupati Maros, Chaidir Syam, turut mendukung penuh pengembangan sekolah lansia sebagai bagian dari komitmen membangun daerah yang ramah dan inklusif bagi semua kalangan, termasuk warga lanjut usia.

“Mereka adalah bagian penting dari masyarakat yang tidak boleh tertinggal dalam pembangunan. Lansia juga berhak mendapatkan akses pendidikan, pembinaan, dan pelayanan yang layak,” tegas Chaidir.

Ia menargetkan perluasan program ke lebih banyak kecamatan tahun depan.

“Sekarang sudah 150 siswa, kami optimistis bisa menambah dua kali lipat tahun depan,” ujarnya.

Chaidir menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya hak generasi muda, tetapi juga hak lansia yang ingin tetap berdaya dan mandiri.

“Semoga sekolah lansia ini menjadi ruang tumbuh dan tempat berkumpul yang memberi semangat hidup baru bagi para lansia,” pungkasnya.

Salah satu peserta, Nursia (70), mengaku bahagia bisa kembali bersekolah. Ia merasa kegiatan ini membantu mengisi waktu luang secara positif.

“Kalau sudah tua, biasanya hanya di rumah saja. Dengan sekolah ini, kami bisa beraktivitas bersama teman-teman lansia lainnya,” ujarnya penuh semangat. (*)