SULSELONLINE.COM — Ketegangan Amerika Serikat–Iran memicu kekhawatiran baru di dunia Islam: bagaimana nasib Haji 2026? Timur Tengah merupakan simpul energi dan jalur penerbangan global. Jika konflik meluas, dampaknya tak hanya geopolitik, tetapi juga pada logistik ibadah.

Haji adalah mobilitas internasional terbesar tiap tahun. Stabilitas ruang udara, keamanan regional, dan kelancaran penerbangan menjadi faktor kunci. Jika wilayah udara Iran, Irak, dan Teluk Persia dibatasi atau ditutup, maskapai harus mengalihkan rute. Dampaknya: waktu tempuh lebih lama, biaya bahan bakar meningkat, dan jadwal embarkasi berpotensi padat.

Premi asuransi risiko perang (war risk insurance) juga bisa melonjak dalam situasi konflik dan biasanya dibebankan ke harga tiket. Jika harga avtur terdorong naik akibat ketegangan di Selat Hormuz—jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—tekanan biaya semakin besar.

Maskapai rute Asia Tenggara–Arab Saudi seperti Garuda Indonesia dan Saudia, termasuk Emirates, Qatar Airways, dan Etihad, sangat bergantung pada stabilitas kawasan. Meski Arab Saudi tidak terlibat langsung, rerouting dan penundaan tetap mungkin terjadi.

Namun, pembatalan total Haji 2026 dinilai hanya terjadi dalam skenario ekstrem, misalnya jika wilayah Hijaz terdampak langsung atau terjadi penutupan luas ruang udara regional. Selama bandara utama Arab Saudi beroperasi normal, penyelenggaraan haji kemungkinan tetap berjalan, meski dengan tantangan biaya dan logistik lebih besar.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan hingga kini belum ada dampak pada tahapan persiapan Haji 1447 H/2026 M. “Seluruh proses perencanaan dan koordinasi tetap sesuai jadwal. Kami berharap kondisi segera normal,” ujarnya.

Pemerintah juga mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda perjalanan sebagai langkah kehati-hatian. Jemaah yang sudah berada di Arab Saudi diminta tetap tenang. Koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, otoritas Saudi, maskapai, dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) terus dilakukan, termasuk memastikan akomodasi aman bagi jemaah yang tertunda.

Pesan pemerintah jelas: jangan terpancing informasi yang belum terverifikasi. Situasi terus dipantau. Haji 2026 belum berubah arah, tetapi dunia bergerak cepat. Di tengah ketidakpastian global, kesiapsiagaan menjadi kunci agar ibadah tetap aman dan tertib.