Hal itu disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel, Agung Prabowo, dalam acara Buka Puasa Relawan Palang Merah Indonesia Kota Makassar di Markas PMI Jalan Kandea, Bontoala, Makassar, Rabu (4/3/2026) petang.
“Baru-baru ini kami menemukan 30 siswa sekolah mengonsumsi narkoba dengan medium vape (rokok elektrik),” ujarnya di hadapan sekitar 500 relawan dan pengurus PMI Makassar.
Agung menegaskan, ke-30 siswa tersebut masih dalam masa karantina dan rehabilitasi jalan di BNNP Sulsel. Pihaknya bersama jajaran kepolisian daerah terus memantau pola pemasaran, peredaran, serta perkembangan jenis zat amphetamine berbahaya yang kini beredar dalam bentuk cair.
Ia menyebut fenomena ini sebagai pola baru dalam konsumsi dan distribusi narkoba di Sulsel. Jenis narkoba cair kimiawi tersebut diinjeksi ke dalam rokok elektrik yang dijual bebas, sehingga sulit terdeteksi secara kasatmata.
“Ibu-ibu, bapak-bapak dan relawan PMI, mulai waspada kalau anak dan orang dekatnya mulai agak lain saat merokok elektrik,” pesannya.
Sebelumnya di Jakarta, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Suyudi Ario Seto, mengungkapkan bahwa vape telah menjadi sarana efektif atau media baru untuk mengonsumsi narkoba dan zat psikoaktif baru (New Psychoactive Substances/NPS).
Menurutnya, cairan atau e-liquid vape pada dasarnya merupakan “koktail kimia”. Selain mengandung nikotin, propilen glikol, dan gliserin, sejumlah produk ilegal ditemukan dicampur narkotika golongan satu dan dua, termasuk sabu cair, etomidate, serta zat adiktif berbahaya lainnya.
Zat pemberi rasa seperti diasetil, asetil piridin, dan benzaldehida juga disebut berisiko tinggi bagi kesehatan jika dikombinasikan dengan senyawa psikoaktif.
BNNP Sulsel mengingatkan pentingnya peran orang tua, guru, serta jaringan relawan untuk ikut memantau dan melakukan sosialisasi bahaya narkoba varian baru ini. Anak-anak yang menggunakan rokok elektrik, baik konvensional maupun elektrik, disebut menjadi kelompok yang rawan terpapar.(*)

Tinggalkan Balasan