SULSELONLINE.COM – Riuh perdebatan publik kembali menguat di ruang digital setelah potongan video ceramah Jusuf Kalla viral dan memicu tudingan sensitif terkait isu agama.

Di tengah arus opini yang saling bertabrakan, pegiat media sosial Denny Siregar angkat suara. Ia mengingatkan publik pada pola lama yang dinilai kembali berulang, yakni penggunaan potongan video sebagai alat pembentukan opini.

Dalam pernyataannya, Denny menyinggung kasus yang pernah menimpa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang menurutnya memiliki kemiripan pola.

“Dulu video Ahok dipotong dan diviralkan dengan narasi penistaan. Sekarang video JK juga dibuat serupa,” tulisnya.

Menurut Denny, praktik tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan pola komunikasi politik yang berpotensi merusak kohesi sosial jika terus terjadi.

Polemik ceramah Jusuf Kalla sendiri bermula dari cuplikan singkat yang beredar luas di media sosial. Dalam potongan tersebut, pernyataan JK terkait konflik agama ditafsirkan seolah-olah menyerang ajaran tertentu.

Padahal, dalam konteks utuhnya, JK sedang menjelaskan dinamika konflik di sejumlah daerah seperti Ambon dan Poso, serta bagaimana narasi agama kerap disalahgunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan.

Dalam versi lengkap pidatonya di lingkungan Universitas Gadjah Mada, Jusuf Kalla justru menegaskan bahwa tidak ada ajaran agama yang membenarkan pembunuhan terhadap orang tak bersalah. Ia juga secara tegas menolak pandangan yang mengaitkan kekerasan dengan keselamatan spiritual.

Namun, potongan video berdurasi singkat yang terlanjur viral telah membentuk persepsi berbeda di tengah masyarakat. Narasi yang berkembang memicu reaksi emosional, sekaligus menunjukkan rentannya ruang publik terhadap informasi yang tidak disampaikan secara utuh.(*)